Tulisan Ilmiah Budaya Sunda

Nama : Habib Abdulrahman NPM : 11220831

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Budaya Sunda merupakan budaya yang berpengaruh bagi perkembangan
budaya Indonesia. Sunda sedikit banyak memiliki pengaruh pada perkembangan
budaya di Indonesia, terutama pada masa kerajaannya. Selain secara langsung
membantu berdirinya Kerajaan Majapahit (Raden Wijaya yang merupakan pendiri
Kerajaan Majapahit adalah anak dari Rakeyan Jayadarma, Raja ke-26 Kerajaan
Galuh Sunda) kekuasaan Kerajaan Sunda terbilang luas, bahkan sampai ada yang
mengatakan bahwa Kerajaan Sunda menguasai setengah Pulau Jawa.
Kata ‘Sunda’ berasal dari kata ‘Su’ yang berarti baik, arti keseluruhan Sunda
adalah segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. Sunda juga memiliki etos
atau watak budaya mengenai jalan menuju keutamaan hidup yaitu cageur (waras),
bageur (baik), singer (sehat), dan pinter (cerdas). Selain etos budaya itu, Sunda juga
tidak kalah dengan seninya seperti Wayang Golek, tari Jaipongan, dan Angklung,
alat musik khas Sunda yang sudah mendunia. Dengan sejarah dan tradisi yang
beragam, sangat disayangkan bagi masyarakat Sunda sendiri bahwa identitas budaya
dan tradisi ini sedikit demi sedikit mulai menghilang. Xenocentrisme, dimana budaya
lain lebih dihargai dibandingkan dengan budaya sendiri merupakan kontribusi besar
dalam hilangnya budaya Sunda. Bagi generasi masa kini, penyerapan budaya luar
adalah sebuah proses modernisasi masyarakat, dan karena hal yang konstan di dunia
adalah perubahan, maka manusia harus ikut berubah beriringan dengan zaman.
Manusia memang harus berubah mengadaptasikan dengan perubahan zaman, tetapi
modernisasi yang dimaksudkan oleh generasi sekarang merupakan persepsi yang
salah terhadap arti sebenarnya dari modernisasi.
Menurut Professor Hirai Naofusa dari Universitas Kokugakuin di Jepang,
modernisasi adalah pembentukan ulang dari sebuah sistem menjadi bentuk baru.
Sedangkan yang selama ini dilakukan oleh generasi muda adalah Westernisasi, yaitu
eliminasi dari unsur-unsur budaya timur dan digantikan peranannya oleh budaya
barat. Hasil dari kesalahpahaman tersebut adalah hilangnya budaya Sunda sedikit
B. Rumusan Masalah
Bagaimana Siswa di wajibkan mengetahui Budaya tarian lokal masing-masing
C. Tujuan Penelitian Untuk Mengenal lebih dalam mengenai Budaya Tarian Sunda BAB II
PEMBAHASAN
kebudayaan Jawa Barat juga mencakup banyak tarian tradisional. Beberapa tari tradisional Jawa Barat telah disajikan dalam daftar dibawah ini
Tari Ketuk Tilu

Ketuk Tilu adalah tarian khas Jawa Barat yang di masa awal diduga kuat sebagai sarana ritual penyambutan panen padi. Seiring perkembangannya, banyak
perubahan pada fungsi dan bentuknya hingga menjadi tarian pergaulan yang difungsikan hanya sebagai hiburan.
Perihal namanya, istilah Ketuk Tilu merujuk pada 3 buah ketuk (bonang) sebagai pengiring utama yang menghadirkan pola irama rebab. Ada juga dua kendang,
indung (besar) dan kulanter (kecil) yang berfungsi mengatur dinamika tari dengan diiringi oleh kecrek dan gong. Tari Ketuk Tilu biasa digelar pada berbagai acara, seperti perkawinan dan acara lain, baik maupun khusus.
Di desa-desa tertentu, pertunjukannya bisa berlangsung semalam suntuk. Tarian Ketuk Tilu inilah yang dikemudian hari menjadi cikal bakal tari Jaipongan.
' Tari Jaipong
Tari Jaipong adalah salah satu tarian daerah Jawa Barat yang cukup populer di Indonesia. Jaipongan merupakan gabungan dari Pencak Silat, Wayang Golek, Topeng Banjet, Tarian Ketuk Tilu serta beberapa elemen seni tradisi lain di Karawang, Jawa Barat.
Kesenian tari yang menjadi salah satu identitas kesenian Jawa Barat ini termasuk tari pergaulan tradisional. Sejak dikreasikan H. Suanda pada kisaran
1976, tari ini berkembang pesat seiring besarnya apresiasi masyarakat Karawang dan sekitarnya.
Tari Jaipongan acap kali dipertunjukkan pada acara penting yang berkaitan dengan kedatangan tamu negara asing. Sering juga digunakan pada misi-misi
kesenian ke manca negara. Tari inilah yang kemudian berpengaruh besar pada kesenian lain di Jawa Barat.
Angklung Bungko
Angklung Bungko adalah tari yang tumbuh di daerah Bungko, Cirebon Utara. Awalnya berupa kesenian musik ritmis bermediakan kentongan. Seiring berjalannya
waktu berkembang menjadi tarian dengan diiringi alat musik gendang, angklung, tutukan, klenong, dan gong.
Tari ini bisa dikatakan sebagai tari perang dengan filosofi yang cukup dalam bagi masyarakat Bungko, tentang totalitas kehidupan komunal yang demokratis.
Tari ini berkaitan dengan sejarah mereka yang berhasil mematahkan serangan dari pasukan Pangeran Pekik.
Meskipun belum diketahui siapa yang pertama kali menciptakannya, awal kelahirannya diperkirakan abad ke-17 yakni setelah wafatnya Sunan Gunung Jati.
Tarian ini sering mewarnai upacara Ngunjung, yaitu upacara untuk berkunjung atau khaul kepada makam leluhur.
BAB III
Penutup
Penulis sangat berharap dengan adanya tulisan ilmiah membuat lebih banyak orang mengetahui kebudayaan tarian lokal yaitu tarian sunda dan penulis meminta
maaf yang sebesar besarnya bilamana di dalam tulisan ini ada kata-kata yang kurang baik, karena penulis manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan
Kesimpulan
Budaya Lokal memang jaman sekarang kurang diminati tetapi dengan kita lebih mengenal dan memperdalam maka akan ada esensi tersendiri dari diri kita
sendiri untuk mengetahui budaya budaya di indonesia yang sebenarnya sangat banyak, khususnya di sunda

Comments

Popular Posts